Jakarta. Kota yang tak pernah tidur. Beton dan aspal membentang sejauh mata memandang. Di tengah riuh rendah klakson dan deru mesin, sebuah album musik menerobos kebisingan. Rimpang karya terbaru Efek Rumah Kaca. Bukan sekadar kumpulan nada, tapi sebuah manifesto. Sebuah perlawanan.
Sapardi Djoko Damono pernah berkata: puisi adalah alat komunikasi paling efektif untuk kritik sosial. Melani Budianta menegaskan: musik punya kekuatan menggerakkan perubahan. Ariel Heryanto mengingatkan: perlawanan seringkali muncul dalam bentuk tak terduga. Rimpang hadir membenarkan ketiga pemikiran itu.
Menelisik Lirik
Album ini membuka dengan “Fun Kaya Fun”. Sebuah paradoks digital dalam bait-bait lirik. “Seisi dunia memahami kita / Teknologi ‘kan mengerti kita / Masa depan bagaimana kita”. Di era di mana orang berlomba-lomba menjadi viral, apakah kita masih memahami diri sendiri? Ketika algoritma media sosial mendikte apa yang kita lihat dan pikirkan, masihkah kita punya otonomi?
“Bergeming” menggugat kebiasaan kita berdiam diri di tengah ketidakadilan. “Diammu serupa opresi / Tak ada empati simpati / Mencari selamat sendiri”. Kita teringat pada kasus-kasus korupsi yang terus berulang. Pada ketimpangan sosial yang semakin menganga. Pada krisis lingkungan yang kian mengancam. Berapa lama lagi kita akan tetap bergeming?
Fenomena orang-orang yang merasa diri pahlawan disindir dalam “Heroik”. “Kau berakrobatik / Menukik-nukik / Orang tersedak jijik”. Kita melihatnya setiap hari. Di media sosial. Di panggung politik. Mereka yang berteriak paling keras mengklaim kebenaran. Yang mengorbankan harmoni demi popularitas sesaat. Yang menjadikan perbedaan sebagai senjata.
“Tetaplah Terlelap” menggambarkan masyarakat yang seolah tertidur. “Jangan lekas terjaga / Orang-orang / ‘Kan menyelimutimu”. Apakah kita terlalu nyaman dengan status quo? Terlalu takut untuk berubah? Kita teringat pada gerakan-gerakan sosial yang padam sebelum mencapai tujuan. Pada reformasi yang mandek di tengah jalan.
Kegamangan dan ketakutan menjadi tema “Sondang”. “Begitu gamangnya kita / Betapa kerutnya kita / Ciut jiwa raga kita”. Potret masyarakat yang merasa kecil dan tak berdaya. Di hadapan sistem yang korup. Di hadapan ancaman otoritarianisme. Di hadapan ketidakpastian masa depan.
“Kita Yang Purba” mengkritisi modernitas yang mengabaikan nilai kemanusiaan. “Jika jiwa hilang percuma / Bukan bencana, bukan petaka / Modernitas pecahkan problema / Apatah daya kita yang purba?“. Pertanyaan yang menggugat di tengah laju pembangunan yang tak terbendung. Hutan-hutan yang dibabat. Sungai-sungai yang tercemar. Budaya lokal yang terpinggirkan.
Sindiran terhadap masyarakat yang menjadi ternak, dalam konteks hari ini ‘buzzer’ pemerintah, muncul dalam “Ternak Digembala”. “Ternak digembala ke tanah lapang / Mereka cari makan / Lalu menunggu dipanggil pulang / Buang hajat dan masuk kandang”. Apakah kita telah kehilangan kemampuan berpikir kritis? Apakah kita hanya mengikuti arus tanpa pernah mempertanyakan? Kita teringat pada fenomena hoaks yang menyebar luas. Pada fanatisme buta yang meracuni nalar.
Di tengah pesimisme, “Bersemi Sekebun” hadir membawa secercah harapan. “Beberapa perang bukan untuk dimenangkan / Beberapa kemenangan bukan untuk dirayakan / Dan dalam rentetan kekalahan bertahanlah sedikit lebih lama / Adalah bentuk keluhuran”. Filosofi perlawanan yang mengingatkan kita pada perjuangan panjang aktivis lingkungan. Pada persistensi pegiat anti-korupsi. Pada keteguhan pembela hak asasi manusia.
Rimpang, lagu yang menjadi judul album, menegaskan bahwa perlawanan tak selalu harus frontal. “Pada setiap kecewa tumbuh / Menjadi batang ‘kan menjalar / Dengan kesabaran, sembunyi di dalam / Klandestin”. Seperti gerakan bawah tanah yang perlahan namun pasti mengubah sistem dari dalam. Seperti ide-ide progresif yang menyebar diam-diam, menunggu waktu yang tepat untuk muncul ke permukaan.
Album ini ditutup dengan “Manifesto”. Sebuah pernyataan sikap yang tegas. “Sejak pecah ketuban / Kami lafalkan epos kesahajaan / Biar keras menulang / Liat menantang, kecamuk di kehidupan”. Efek Rumah Kaca menegaskan posisi mereka sebagai musisi yang tak pernah berhenti bersikap kritis.
Cermin Post Truth
Rimpang adalah sebuah cermin. Memantulkan wajah kita sebagai bangsa. Dengan segala kontradiksi dan kompleksitasnya. Ia adalah sebuah alarm. Membangunkan kita dari lelap panjang ketidakpedulian. Ia adalah sebuah kompas. Menunjukkan arah di tengah kebingungan zaman.
Di era post-truth, ketika kebenaran menjadi relatif dan fakta bisa dimanipulasi, Rimpang hadir sebagai oase kejujuran. Di tengah polarisasi yang kian tajam, ia mengingatkan kita akan pentingnya empati dan solidaritas. Saat banyak orang memilih jalan pintas menuju popularitas, album ini memilih untuk tetap berintegritas.
Efek Rumah Kaca telah menanam benih-benih pemikiran kritis melalui album ini. Benih-benih yang kelak akan tumbuh menjadi kesadaran kolektif. Menjadi gerakan nyata. Menjadi perubahan yang kita dambakan.
Jakarta pun malam. Lampu-lampu gedung pencakar langit menyala terang. Tapi ada yang berbeda. Ada resonansi baru yang menggetarkan udara. Pesan-pesan dalam Rimpang terus bergema. Menyelinap dalam mimpi-mimpi kita. Dalam alam bawah sadar kolektif bangsa ini. Siap tumbuh menjadi perlawanan. Esok hari. Lusa. Atau mungkin bertahun-tahun lagi. Tapi ia akan tumbuh. Pasti.


Tinggalkan Balasan