Sabtu, 25 Juli. Si Jalak Harupat.
Persib lawan Arema. Kickoff setengah delapan malam. Tiket lima puluh ribu, semua kategori, tanpa kecuali. Indosiar siaran langsung, Vidio juga. Pemain baru bakal debut, sebagian bakal kita lihat pertama kali malam itu.
Kedengarannya seperti semua hal yang kita mau. Tunggu dulu.
Ini Bukan Tuduhan Korupsi
Biar jelas dari awal, karena aku nggak mau tulisan ini dibaca sebagai sesuatu yang bukan.
Piala Presiden 2026 tidak pakai APBN. Tidak pakai BUMN. Panitia menegaskan pendanaannya murni dari sponsor swasta, dan mereka pakai PwC buat audit. Kantor akuntan internasional, dipakai berulang tiap edisi sebagai alat ukur kredibilitas. Jadi kalau kamu nunggu aku bilang “uang rakyat dipakai buat turnamen,” nggak akan ketemu di sini. Itu bukan masalahnya.
Masalahnya ada di kalimat yang diucapkan penyelenggaranya sendiri. Waktu ditanya kenapa sponsor mau masuk, Maruarar Sirait sebagai Ketua Steering Committee (SC) menjawab karena ada kepercayaan. Lalu dia sebut daftarnya. Nama pertama yang keluar bukan PSSI, bukan Emtek. Yang pertama disebut adalah kepercayaan kepada Presiden. Selain itu, di hari pembukaan, Maruarar Sirait bilang ke media bahwa mereka berusaha menjaga arahan Presiden.
Itu bukan tuduhanku. Itu pengakuan. Turnamen ini memang tidak dibiayai negara. Tapi nama presiden adalah modalnya. Sponsor datang karena nama itu ada di sana. Yang beredar bukan uang APBN, tapi yang beredar adalah citra, dan citra itu punya harga.
Sekarang lihat siapa yang mengurus.
Ketua Steering Committee (SC): Maruarar Sirait, Menteri Perumahan. Ketua Umum PSSI: Erick Thohir. Ketua Organizing Committee (OC): Tsamara Amany.
Coba jawab pelan-pelan: apa hubungan Kementerian Perumahan dengan sepakbola? Apa keahlian teknis yang dibawa seorang menteri perumahan ke turnamen pramusim? Nggak ada. Nol. Yang menghubungkan cuma satu hal, dan kita semua tahu apa.
Ini bukan pos olahraga. Ini pos politik yang kebetulan bentuknya pertandingan bola.
“Kick Out Politic on Football”
Aku akan menyampaikan kalimat itu sekarang, agar tidak didahului oleh kalian.
Aku setuju sama kalimat itu. Tapi coba perhatikan kalimat itu selama ini dipakai ke arah mana. Kita harus jujur soal politik yang mana yang dimaksud.
Politik itu ada di mana-mana. Cara antre tiket diatur, cara stadion dibangun, cara suporter away boleh datang atau dilarang, itu semua politik. Politik itu cara hidup bareng diatur, dan mustahil dilepas dari apa pun, termasuk bola. Jadi “bola bebas politik” itu omong kosong yang manis.
Yang sebenarnya kita tolak bukan politik. Yang kita tolak politik praktis, perebutan kekuasaan, pencitraan pejabat, panggung yang dipakai buat naikin nama seseorang.
Perhatikan, waktu tribun bikin spanduk soal korban stadion atau komentar kepada pemangku kebijakan, dibilang jangan bawa politik ke bola. Waktu suporter nolak jadwal yang bahaya, dibilang jangan bawa politik ke bola. Waktu ada yang nanya kenapa kasus lama nggak selesai, dibilang jangan bawa politik ke bola.
Tapi waktu nama presiden ditempel ke trofi? Waktu menteri jadi ketua panitia? Waktu seremoni pembukaan jadi panggung pejabat?
Diam. Nggak ada yang bilang itu politik.
Jadi kalimatnya nggak pernah berlaku dua arah. Yang dilarang berpolitik selalu tribun, nggak pernah panggungnya.
Ada dua hal berbeda yang selama ini sengaja dicampur biar kita bingung:
Sepakbola dipakai politik. Bola jadi alat. Suporter jadi bahan. Antusiasme kita diambil, diolah jadi gambar, dipakai buat kepentingan yang bukan kepentingan kita. Kita nggak ditanya. Kita nggak dapat apa-apa. Ini namanya ekstraksi.
Suporter punya sikap politik. Kita sadar lagi dipakai, terus milih gimana kita mau berdiri. Datang atau nggak. Nyanyi atau diam. Ini namanya agensi.
Yang pertama terjadi ke kita. Yang kedua kita yang lakukan.
Nolak yang pertama bukan berarti mencampuradukkan bola dan politik. Nolak yang pertama justru satu-satunya cara supaya bola tetap jadi milik kita.
Permintaan yang Kasat Mata
Tiket lima puluh ribu untuk semua kategori. Kelihatan baik. Kelihatan merakyat. Tapi coba pikir sekali lagi. Turnamen dengan hadiah juara enam miliar, sponsor penuh sebelum kickoff, siaran nasional dua platform dan tiketnya dibikin semurah itu?
Tiket murah bukan hadiah. Tiket murah itu investasi.
Karena yang mereka butuhkan bukan uang tiket. Yang mereka butuhkan adalah tribun penuh. Kamera butuh gambar lautan suporter. Siaran butuh suara nyanyian. Seremoni butuh latar belakang yang hidup.
Kita bukan diundang jadi penonton. Kita diminta jadi properti.
Sekarang bayangkan dua gambaran yang akan aku deskripsikan ini.
Gambaran pertama: di waktu yang berdekatan, seorang mantan pejabat tinggi penegak hukum ditetapkan sebagai tersangka dugaan korupsi dan pencucian uang, tak lama setelah mundur dari jabatannya. Tiga perkara: dugaan yang berkaitan dengan Asabri, dana pensiun prajurit, Krakatau Steel, dan tata kelola batu bara yang salah satu dugaannya disebut sampai bikin listrik di sebagian Sumatera padam. Barang bukti yang disita, antara lain, uang tunai, valuta asing, dan aset lain yang totalnya ditaksir ratusan miliar rupiah. Semua ini masih dugaan, belum vonis, tapi sedang berjalan, sekarang.
Gambaran kedua: di minggu yang sama, kita diminta datang ke stadion, tiket disubsidi, buat merayakan sesuatu yang trofinya bernama presiden.
Aku nggak bilang yang satu sengaja menutupi yang lain. Aku nggak punya bukti untuk klaim sebesar itu, dan aku nggak mau jadi penyebar teori kosong. Aku cuma minta kamu memegang dua gambaran itu bareng-bareng, lalu bertanya sendiri: dari dua tontonan ini, mana yang lebih mereka ingin kamu tonton?
Sementara listrik padam dan dana pensiun prajurit jadi bahan sidang, kita diminta bahagia di depan kamera. Gambar rakyat yang senang punya fungsi di saat seperti ini. Fungsinya bukan buat kita.
“Merawat Ingat, Menolak Lupa”
Asep Ahmad Solihin. Sofian Yusuf.
Dua bobotoh. Meninggal di Gelora Bandung Lautan Api, Jumat malam, saat Persib lawan Persebaya di Grup C Piala Presiden 2022.
(mari berhenti membaca dan berpikir sejenak, mari doakan Asep dan Sofian sebelum dilanjut)
Menurut Kabid Humas Polda Jabar waktu itu, keduanya terjatuh saat berdesak-desakan masuk stadion. Malam itu 37.872 orang masuk stadion berkapasitas 38.000.
Menurut catatan Save Our Soccer, Asep dan Sofian adalah korban ke-77 dan ke-78 sejak Liga Indonesia bergulir tahun 1994. Nomor tujuh puluh tujuh dan tujuh puluh delapan. Baca ulang angka itu.
Dan ini bagian yang perlu kita ingat baik-baik:
Bobotoh waktu itu nggak mau terima. Mereka datang ke Graha Persib. Mereka nolak kejadian itu dibungkus jadi kata “musibah”, mereka bilang itu kelalaian panitia, bukan takdir. Kepolisian saat itu turun menyelidiki dugaan kelalaian penyelenggara.
Terus mereka mengosongkan tribun.
Laga Persib lawan Bhayangkara, 21 Juni 2022, sebagian bobotoh memboikot datang ke tribun. Bukan karena benci Persib. Justru sebaliknya. Karena ada dua nama yang nggak bisa datang lagi.
Jadi kalau ada yang bilang ajakan ini aneh, radikal, atau bukan cara bobotoh, tolong diingat: bobotoh sudah pernah melakukannya. Empat tahun lalu. Dengan alasan mereka sendiri. Tanpa diajak siapa-siapa. Yang aku tanyakan sekarang cuma satu: bisa nggak dilakukan sekali lagi?
Sikap itu Bertingkat
Aku nggak akan pura-pura semua orang punya posisi yang sama. Ada yang udah nabung buat tiket. Ada yang cuma pengen lihat pemain baru. Ada yang setahun sekali baru bisa ke stadion.
Ini alasan paling jujur, dan aku hormati.
Tapi pikir lagi. Pemain baru itu bukan milik pramusim. Mereka milik satu musim penuh. Yang debut malam itu bakal kamu lihat lagi di Liga di kandang, di laga yang benar-benar berarti, di pertandingan yang poinnya masuk klasemen, bukan cuma pemanasan yang trofinya bertuliskan jabatan.
Nggak datang ke Piala Presiden bukan berarti kehilangan mereka. Cuma menunda beberapa minggu, buat menonton mereka di panggung yang benar-benar milik kita, bukan panggung pinjaman.
Jadi ini bukan satu perintah. Ini tangga. Naik sejauh yang kamu sanggup.
Satu, jangan datang. Ini yang paling aku harapkan. Tribun kosong adalah satu-satunya bahasa yang nggak bisa mereka edit di siaran ulang.
Dua, datang tapi hanya fokus pertandingan. Duduk. Nggak tepuk tangan. Nggak sorak. Nyanyi baru mulai waktu bola bergulir. Nyanyi buat klub, bukan buat panggung. Suaramu buat sebelas orang di lapangan. Bukan buat orang di tribun VIP.
Tiga, minimal, sadar. Kalau kamu tetap datang dan tetap nyanyi dan tetap seneng, ya udah. Tapi sadar aja kamu lagi jadi bagian dari apa. Kesadaran itu bukan hal kecil. Orang yang tahu dia lagi dipakai jauh lebih susah dipakai lagi besoknya.
Kita boleh beda sikap tanpa saling membuang. Yang aku minta bukan supaya kamu benci yang datang. Yang aku minta cuma supaya kamu, sebelum memilih, tahu betul kamu sedang jadi bagian dari apa.
Yang tetap datang bukan pengkhianat. Aku nggak akan nyebut siapa pun begitu. Klub itu bukan milik siapa pun yang lagi menempelkan jabatan di trofi. Klub itu lebih tua dari mereka dan bakal lebih panjang umurnya dari mereka. Yang kita tolak bukan bolanya. Yang kita tolak adalah jadi latar belakang orang lain.
Suporter datang karena cinta, bukan karena citra.


Tinggalkan Balasan