Apa Perekat Sebenarnya di Luar Dana: Menyatukan Visi, Merawat Relasi, Menghidupkan Milik Bersama

Gang sempit perkotaan, lumbung kayu, 5-7 orang gotong royong mengumpulkan beras

Ditulis oleh

di

Di sebuah gang sempit di Bandung, ada komunitas warga yang setiap bulan mengumpulkan beras. Setiap keluarga menyumbang satu liter, bukan karena dipaksa, bukan karena ada dananya. Beras itu disimpan, dan jika ada warga yang jatuh miskin, sakit, atau kehilangan pekerjaan, mereka mengambil dari lumbung itu. Tidak ada pencatatan utang, tidak ada bunga. Hanya ingatan sosial: siapa yang pernah dibantu, siapa yang akan membantu nanti. Komunitas ini bertahan puluhan tahun tanpa uang. Perekatnya adalah kepercayaan, bukan modal.

Inilah yang sering luput dari perbincangan tentang keberlanjutan: ada kekuatan yang jauh lebih tua, lebih dalam, dan lebih tangguh daripada uang.

Sebab, berbeda antara digerakkan oleh dana dan digerakkan oleh tujuan. Maka, kita perlu memilah tiga hal yang menjadi perekat sesungguhnya dari komunitas-komunitas yang bertahan tanpa uang. Pertama, modal sosial: jaringan hubungan, norma resiprositas, dan kepercayaan yang memungkinkan orang bekerja sama tanpa insentif finansial. Robert Putnam menegaskan bahwa modal sosial berbeda dengan modal finansial: semakin sering dipakai, ia bertambah, bukan berkurang. Kepercayaan tidak habis; ia menguat seiring digunakan.¹ Kedua, ekonomi hadiah: sistem pertukaran di mana barang atau jasa diberikan tanpa kesepakatan imbalan langsung, didorong oleh solidaritas. Marcel Mauss merumuskan bahwa memberi bukanlah dermawan satu arah, melainkan penciptaan hubungan. Pemberian yang tak berbalas bukanlah kerugian; ia investasi dalam jaring sosial yang kelak akan menangkapmu saat kau jatuh.² Ketiga, commons atau milik bersama: sumber daya yang dikelola secara kolektif oleh komunitas, bukan oleh pasar atau negara. Elinor Ostrom membuktikan bahwa komunitas mampu mengelola sumber daya bersama secara berkelanjutan tanpa privatisasi, selama ada aturan yang disepakati, partisipasi, dan mekanisme penyelesaian konflik.³

Di Indonesia, tradisi ini memiliki akar panjang. Mapalus di Minahasa, subak di Bali, marsiadapari di Batak, gugur gunung di Jawa—semuanya praktik gotong royong yang mendahului kapitalisme dan bertahan hingga kini. Lont, dalam studi etnografisnya tentang arisan dan jimpitan di Yogyakarta, menemukan bahwa perekat utama arisan bukanlah uang yang terkumpul, melainkan pertemuan rutin, obrolan, dan pengakuan sosial.⁴ Inilah modal sosial yang cair, yang tak bisa dihitung dengan angka, tetapi bisa dirasakan oleh siapa pun yang pernah menjadi bagian darinya.

Mengapa komunitas-komunitas ini bisa bertahan tanpa uang? Sebab, mereka beroperasi dengan logika yang berbeda dari pasar. James Scott menyebutnya moral economy, sistem di mana nilai-nilai etis—keadilan, solidaritas, hak untuk bertahan hidup—mengalahkan logika maksimalisasi keuntungan.⁵ Dalam ekonomi moral, orang tidak bertanya “berapa untungku?”, melainkan “apakah semua orang cukup?”. Pada saat yang sama, komunitas-komunitas ini terus-menerus melakukan commoning: praktik aktif mengelola milik bersama. Istilah Bollier dan Helfrich itu berarti bukan hanya memiliki commons, tetapi merawat, berbagi, membuat aturan, menyelesaikan konflik.⁶ Uang adalah benda mati; commoning adalah proses hidup. Lumbung beras di gang sempit itu hidup bukan karena berasnya, melainkan karena ingatan sosial yang terus dirawat: siapa yang pernah dibantu, siapa yang akan membantu nanti.

Studi O’Dwyer dan Neville tentang mutual aid networks selama pandemi di Inggris memperkuat temuan ini. Sebanyak 58% kelompok bantuan warga yang terbentuk tidak memiliki rekening bank atau dana formal. Mereka beroperasi dengan donasi barang, pinjaman tempat, dan tenaga sukarela.⁷ Jaringan ini lebih cepat terbentuk dan lebih fleksibel daripada bantuan pemerintah. Di Indonesia, fenomena serupa muncul di mana-mana: dari komunitas yang memasak untuk pasien isolasi mandiri, hingga anak muda yang menggalang solidaritas lewat media sosial tanpa struktur organisasi formal. Semuanya bergerak tanpa menunggu dana turun. Krisis, terbukti, tidak selalu dijawab dengan uang; sering kali ia dijawab dengan hubungan.

Namun, “tanpa uang” bukan berarti menolak uang secara dogmatis. Banyak komunitas yang akhirnya mati justru karena idealisme anti-uang yang ekstrem, tanpa menyiapkan model keberlanjutan yang realistis. Modal sosial memang kuat, tetapi ia juga memiliki batas. Kelelahan relawan, konflik internal, dan perubahan prioritas adalah ancaman nyata. Komunitas yang bertahan adalah yang menemukan keseimbangan antara modal sosial dan kecukupan material, bukan yang meniadakan uang sama sekali. Sebab, bahkan kepercayaan pun perlu sesekali diberi kopi.

Di sinilah letak pelajaran paling penting dari komunitas-komunitas tanpa uang: mereka mengingatkan bahwa manusia bisa hidup dengan logika selain pasar. Mereka tidak menolak uang; mereka hanya menempatkannya bukan sebagai yang utama. Aristoteles membedakan antara poiesis, kegiatan yang bertujuan menghasilkan sesuatu di luar dirinya, dan praxis, kegiatan yang tujuannya ada dalam dirinya sendiri.⁸ Berkumpul, merawat, berbagi bukan demi produk akhir, melainkan karena tindakan itu sendiri sudah bernilai. Inilah etika persahabatan sipil yang diajarkan para filsuf polis, dan inilah yang dipraktikkan oleh komunitas-komunitas tanpa uang setiap hari. Martin Buber menyebutnya relasi I-Thou: aku bertemu kamu sepenuhnya, bukan sebagai alat.⁹ Ketika uang disingkirkan dari pusat interaksi, yang tersisa adalah manusia saling memandang sebagai tujuan, bukan instrumen transaksi.

Pada akhirnya, komunitas yang bertahan tanpa uang adalah laboratorium harapan. Mereka adalah sisa-sisa peradaban yang lebih tua, lebih dalam, dan lebih tangguh, yang menolak punah di tengah tekanan logika pasar yang ingin mengubah segalanya menjadi komoditas. Mereka mengajarkan bahwa kekayaan tidak selalu tersimpan di bank; kadang ia tersimpan di antara orang-orang, dalam ingatan tentang siapa yang pernah dibantu, dalam keyakinan bahwa suatu hari seseorang akan datang membawa beras ketika lumbung kita kosong. Hutang budi adalah mata uang tertua, dan nilainya tidak pernah inflasi. Selama masih ada orang yang bersedia menyumbang satu liter beras setiap bulan tanpa ditagih, selama masih ada yang datang ke acara komunitas bukan karena dibayar tetapi karena merasa memiliki, selama itu pula masih ada bukti bahwa manusia tidak sepenuhnya bisa direduksi menjadi angka. Dan di dalam bukti yang sunyi itu, tersimpan jawaban atas krisis keterputusan: perekat sejati tidak dijual di pasar, tidak bisa diunduh dari toko aplikasi, dan tidak akan pernah ditemukan oleh algoritma. Ia hanya bisa ditemukan dengan menatap wajah orang lain dan berkata, “Aku di sini.” Itu saja, dan ternyata itu cukup.


Rujukan

Buber, M. (1958). I and Thou. (R. G. Smith, Terj.). Scribner. (Karya asli diterbitkan 1923)

Putnam, R. D. (2000). Bowling Alone: The Collapse and Revival of American Community. Simon & Schuster.

Mauss, M. (1990). The Gift: The Form and Reason for Exchange in Archaic Societies. (W. D. Halls, Terj.). Routledge. (Karya asli diterbitkan 1925)

Ostrom, E. (1990). Governing the Commons: The Evolution of Institutions for Collective Action. Cambridge University Press.

Lont, H. (2005). Juggling Money: Financial Self-Help Organizations and Social Security in Yogyakarta. KITLV Press.

Scott, J. C. (1976). The Moral Economy of the Peasant: Rebellion and Subsistence in Southeast Asia. Yale University Press.

Bollier, D., & Helfrich, S. (2019). Free, Fair, and Alive: The Insurgent Power of the Commons. New Society Publishers.

O’Dwyer, E., & Neville, F. (2021). Mutual aid and the COVID-19 pandemic: A study of community resilience in the UK. Journal of Community Psychology, 49(6), 1821–1837.

Aristoteles. (1999). Nicomachean Ethics. (T. Irwin, Terj.). Hackett Publishing. (Karya asli ca. 350 SM)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *