Khoiri Setiawan

  • Kepada Adik: Surat yang Terlambat, Rindu yang Tepat Waktu

    Bob Anwar menggandeng Nuranica dan Yasin Getih dalam sebuah lagu tentang jarak yang tumbuh diam-diam antara kakak dan adik. Dirilis sehari setelah Hari Anak Nasional. Ada jarak yang tidak pernah kita rencanakan, dan justru karena itu ia paling menyakitkan. Jarak dengan kekasih masih bisa diberi nama: putus, atau sedang tak baik. Jarak dengan sahabat masih…

    Lanjutkan Membaca

  • Apa Perekat Sebenarnya di Luar Dana: Menyatukan Visi, Merawat Relasi, Menghidupkan Milik Bersama

    Komunitas paling tangguh tidak dirakit oleh dana, tapi oleh tiga hal: visi yang satu, relasi yang dirawat, dan milik bersama yang benar-benar dihidupi.

    Lanjutkan Membaca

  • Nobar: Mencari Pelukan di Tengah Layar yang Memisahkan

    Saya mengamati mereka yang datang ke nobar yang kami gelar. Puluhan orang memilih berdesakan di bangku kayu, padahal di rumah mereka bisa menonton dengan layar lebih jernih dan sofa lebih empuk. Ketika gol tercipta, mereka melompat, berteriak, dan berpelukan dengan orang yang lima menit sebelumnya belum mereka kenal. Malam itu mereka pulang bukan hanya membawa…

    Lanjutkan Membaca

  • Bukan Pengembangan Diri, Melainkan Penambangan Tenaga

    Tahun 2017, saya menjadi ketua pelaksana sebuah acara pengabdian di kampus. Selama tiga bulan, saya bekerja dari pagi hingga tengah malam: menyusun proposal, mencari sponsor, mengoordinasi puluhan panitia, menghadapi birokrasi kampus. Saya bolos lebih dari setengah jadwal kuliah, nilai semester itu anjlok, dan saya jatuh sakit setelah acara selesai. Di CV, saya menuliskan jabatan itu…

    Lanjutkan Membaca

  • Skripsi, Wisuda, Lalu Apa?

    Saya lulus pada 2023, setelah delapan tahun di kampus. Bukan karena malas, melainkan karena organisasi, teater, dan kerja-kerja yang menyita waktu. Di panggung wisuda, setelah toga dilepas dan foto-foto selesai, saya berdiri di pelataran dan bertanya, “Lalu, apa?” Tidak ada lagi jadwal kuliah, tidak ada dosen yang memberi tugas, tidak ada target yang jelas. Hidup…

    Lanjutkan Membaca

  • Riset untuk Siapa? Menjembatani Kampus dan Warga yang Terlupakan

    Seorang dosen menyelesaikan riset tiga tahun tentang pola konsumsi air bersih di desa-desa pesisir. Laporannya tebal, penuh tabel, berbahasa Inggris, dan diterbitkan di jurnal internasional bereputasi. Ia naik pangkat. Sementara itu, warga di desa yang menjadi objek risetnya tetap membeli air dari tengkulak dengan harga selangit. Mereka tidak pernah tahu bahwa ada riset tentang mereka.…

    Lanjutkan Membaca

  • Bukan Selera, Melainkan Cermin Data: Playlist yang Selalu Mengiyakan

    Dulu, menemukan musik adalah petualangan. Masuk ke toko kaset, membaca liner notes, bertanya pada penjaga toko yang mukanya galak tapi pengetahuannya seluas ensiklopedia. Membajak radio semalaman hanya untuk merekam satu lagu yang tidak kita tahu judulnya. Menerima mixtape dari teman, ditulis dengan spidol, isinya lagu-lagu yang disusun dengan cinta, bukan dengan data. Proses itu membentuk identitas: selera adalah…

    Lanjutkan Membaca

  • Bukan Berhenti, Melainkan Tak Bisa Berhenti

    Ia mengumumkan “Aku pamit dari media sosial” pada suatu sore yang mendung. Tulisannya panjang: tentang kelelahan mental, tentang perbandingan tak sehat, tentang ingin kembali ke dirinya yang dulu. Ratusan komentar mendukung. Beberapa bahkan terinspirasi. Tetapi malamnya, ia membuka aplikasi dari ponsel lain, akun yang tak diketahui siapa pun. Ia hanya ingin melihat apakah mantannya sudah…

    Lanjutkan Membaca

  • Kenapa Kita Berhenti pada Keluhan?

    Seorang penulis di sebuah platform media sosial menulis setiap malam tentang rasa sesaknya di kota besar. Awalnya, tulisannya hanya serpihan: kemacetan, bos yang dingin, rindu pada kampung. Lama-kelamaan, tanpa ia sadari, tulisannya berubah. Ia mulai bertanya: kenapa saya merasa sesak? Kenapa saya terus tinggal di sini? Apa yang saya cari? Dari mengeluh setiap hari, ia…

    Lanjutkan Membaca