Bukan Berhenti, Melainkan Tak Bisa Berhenti

Ditulis oleh

di

Ia mengumumkan “Aku pamit dari media sosial” pada suatu sore yang mendung. Tulisannya panjang: tentang kelelahan mental, tentang perbandingan tak sehat, tentang ingin kembali ke dirinya yang dulu. Ratusan komentar mendukung. Beberapa bahkan terinspirasi. Tetapi malamnya, ia membuka aplikasi dari ponsel lain, akun yang tak diketahui siapa pun. Ia hanya ingin melihat apakah mantannya sudah memposting sesuatu yang baru. Minggu berikutnya, ia kembali dengan akun lamanya, tanpa pengumuman apa pun. Semua orang pura-pura tidak tahu.

Inilah paradoks abad ke-21: semakin kita ingin lepas, semakin kita terikat.

Sebab, ada perbedaan mendasar antara ingin berhenti dan mampu berhenti. Maka, kita perlu memilah tiga hal yang sering disalahpahami dalam perbincangan tentang meninggalkan media sosial. Pertama, digital detox: praktik menjauhkan diri secara sengaja dari platform digital untuk jangka waktu tertentu dengan tujuan memulihkan kesehatan mental. Ia adalah jeda, bukan putus. Kedua, habit loop atau lingkaran kebiasaan: mekanisme psikologis yang terdiri dari pemicu, rutinitas, dan hadiah. Media sosial dirancang untuk menciptakan lingkaran ini secara presisi, menjadikan setiap notifikasi sebagai pemicu, setiap scroll sebagai rutinitas, dan setiap like sebagai hadiah. Ketiga, FOMO atau fear of missing out: kecemasan bahwa orang lain mengalami hal-hal menyenangkan tanpa kita, yang diperparah oleh paparan konstan terhadap aktivitas orang lain. Inilah yang membuat tombol “hapus akun” terasa seperti tombol “hapus diriku dari dunia”.

Media sosial adalah mesin slot yang kita bawa ke mana-mana. Tristan Harris, mantan Design Ethicist Google, mengungkapkan bahwa tidak ada yang kebetulan dalam cara platform bekerja. Pemicu, cue itu, dirancang oleh ribuan insinyur untuk mengaktifkan lingkaran kebiasaan kita. Setiap kali kita mencoba berhenti, platform mengirimkan notifikasi: “Seseorang menyukai postingan Anda,” “Anda punya kenangan tiga tahun lalu.” Itu bukan kebetulan. Itu adalah arsitektur adiktif yang disengaja. Sean Parker, presiden pertama Facebook, mengakuinya dengan terus terang: penyesalan terbesar para pendiri media sosial bukanlah bahwa platform digunakan untuk kebohongan atau polarisasi, melainkan bahwa mereka telah menciptakan mesin yang merampas kehendak bebas manusia untuk berhenti.

Akibatnya bisa diukur. Survei Pew Research Center menemukan bahwa 59% pengguna media sosial mengatakan bahwa “tidak akan sulit” untuk berhenti, namun hanya 26% yang benar-benar pernah mencoba, dan dari yang mencoba, sebagian besar kembali dalam waktu kurang dari sebulan. Kesenjangan antara niat dan tindakan sangat lebar. Penelitian Stieger dan koleganya terhadap partisipan yang menjalani detoks media sosial selama tujuh hari menemukan bahwa meskipun suasana hati dan tidur membaik, sebagian besar melaporkan “perasaan terisolasi” dan “takut ketinggalan informasi penting”. Withdrawal psikologis dari media sosial adalah nyata, bukan sekadar mitos. Otak kita tidak siap untuk berhenti dari mesin slot yang telah mengatur ritme harian kita.

Mengapa kita terus kembali? Sebab, media sosial bukan sekadar aplikasi, melainkan tempat di mana kita merasa ada. Heidegger berbicara tentang Dasein, “berada di dunia”. Di era ini, “dunia” itu sebagian besar adalah linimasa. Berhenti dari media sosial, bagi sebagian orang, adalah kehilangan dunia. Bukan sekadar kehilangan hiburan, tetapi kehilangan tempat di mana mereka dikenali. Sherry Turkle menyebutnya alone together: kita sendirian, tetapi bersama-sama. Paradoksnya, kita ingin melarikan diri dari kebisingan, tetapi kita takut pada keheningan. Maka, banyak orang memilih jalan tengah yang menyiksa: tetap di platform, tetapi merasa bersalah setiap menitnya; atau pergi, tetapi terus mengintip melalui akun orang lain, sebuah pantang yang tidak pernah utuh.

Lalu ada ironi yang lebih dalam. Setiap kali kita mengumumkan “berhenti” di media sosial, kita menggunakan logika yang sama dengan yang kita kritik: mencari perhatian, validasi, dan respons. Pengumuman itu sendiri adalah konten. Portwood-Stacer, dalam studinya tentang media refusal, menemukan bahwa penolakan terhadap media sosial sering kali bersifat performatif. “Aku tidak punya Instagram” adalah pernyataan identitas, bukan sekadar ketiadaan akun. Kita tidak bisa keluar dari sistem dengan alat yang disediakan oleh sistem itu sendiri.

Namun, kita juga perlu jujur: “berhenti dari media sosial” adalah sebuah privilege. Banyak pekerja, pedagang kecil, kreator konten, aktivis, guru, yang menggantungkan pendapatan dan perjuangan mereka pada platform ini. Menyuruh mereka berhenti adalah sama absurdnya dengan menyuruh buruh pabrik berhenti bekerja karena mesinnya berisik. Maka, kritik terhadap media sosial harus inklusif: bukan “berhenti”, tetapi “merebut kendali”.

Di sinilah kita perlu bertanya: jika berhenti total bukanlah jawaban yang realistis bagi semua orang, lalu apa yang bisa dilakukan? Pertama, kenali lingkaran kebiasaanmu sendiri. Charles Duhigg dalam The Power of Habit menjelaskan bahwa satu-satunya cara mengubah kebiasaan adalah dengan mempertahankan pemicu dan hadiah yang sama, tetapi mengganti rutinitasnya. Jika pemicunya adalah bosan, dan hadiahnya adalah distraksi, ganti rutinitas membuka media sosial dengan membaca buku atau menelepon teman. Kedua, matikan notifikasi. Ini langkah paling sederhana dan paling efektif. Notifikasi adalah pemicu yang dirancang untuk membajak perhatianmu. Dengan mematikannya, kamu memutus mata rantai pertama lingkaran kebiasaan. Ketiga, latih digital mindfulness: sadar penuh saat menggunakan platform. Tanyakan sebelum membuka aplikasi: apa yang aku cari di sini? Berapa lama aku akan di sini? The Log Off Movement, gerakan yang didirikan remaja pada 2020, tidak mempromosikan berhenti total, melainkan kesadaran penuh saat menggunakan. Ini pendekatan yang lebih jujur dan lebih manusiawi.

Sebab, tujuan akhirnya bukanlah menghapus akun, melainkan merebut kembali kendali atas perhatian kita sendiri. Shoshana Zuboff menyebut model bisnis di balik semua ini sebagai surveillance capitalism: data perilaku kita adalah komoditas utama. Setiap klik, setiap jeda, setiap scroll adalah produk yang dijual ke pengiklan. Berhenti adalah ancaman eksistensial bagi model bisnis ini, sehingga seluruh arsitektur platform dirancang untuk mencegahnya. Melawan arsitektur itu bukanlah tindakan satu kali, melainkan latihan harian.

Kierkegaard menyebut kecemasan sebagai “pusingnya kebebasan”, ketakutan yang muncul ketika kita berdiri di tepi jurang kemungkinan yang tak terbatas. Media sosial menghilangkan pusing itu dengan menyediakan pilihan yang sudah dikurasi: apa yang harus dilihat, apa yang harus dimarahi, apa yang harus diinginkan. Berhenti dari media sosial berarti menghadapi kembali jurang itu: waktu kosong, perhatian bebas, hidup tanpa algoritma. Itu menakutkan. Maka, kita kembali. Sebagian dari kita akan mengulang siklus yang sama: pamit, kembali, pamit lagi, kembali lagi. Itu bukan kelemahan. Itu adalah cerminan dari kenyataan bahwa kita hidup di zaman yang tidak menyediakan jalan keluar yang bersih dan final dari mesin yang telah mencengkeram perhatian kita.

Mungkin tidak apa-apa. Mungkin pemulihan tidak harus berupa penghapusan total. Mungkin kemenangan-kemenangan kecil, satu jam tanpa ponsel sebelum tidur, satu notifikasi yang dimatikan, satu sore tanpa membuka aplikasi apa pun, sudah cukup untuk memulai. Tidak semua orang harus menjadi pahlawan yang menghapus semua akunnya. Sebagian dari kita hanya perlu belajar menggunakan media sosial tanpa tenggelam di dalamnya. Dan belajar, seperti biasa, dimulai dari langkah yang sangat kecil: berhenti sejenak, menarik napas, dan bertanya dengan jujur, apa yang sebenarnya aku cari di sini? Pertanyaan itu mungkin tidak akan mengubah dunia. Tetapi ia bisa mengubah hubungan kita dengan ponsel di tangan kita. Itu saja sudah lebih dari cukup.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *