Dulu, menemukan musik adalah petualangan. Masuk ke toko kaset, membaca liner notes, bertanya pada penjaga toko yang mukanya galak tapi pengetahuannya seluas ensiklopedia. Membajak radio semalaman hanya untuk merekam satu lagu yang tidak kita tahu judulnya. Menerima mixtape dari teman, ditulis dengan spidol, isinya lagu-lagu yang disusun dengan cinta, bukan dengan data. Proses itu membentuk identitas: selera adalah narasi yang kita bangun sendiri, penuh luka, penuh kejutan, penuh kesalahan yang justru menjadi cerita. Kini, Spotify menyodorkan “Discover Weekly” yang tahu kita ingin apa sebelum kita sendiri menyadarinya. Playlist “Made For You” begitu akurat, begitu nyaman, begitu mulus. Tidak ada lagi gesekan. Tidak ada ruang untuk tidak tahu. Akurasi algoritma telah membunuh kejutan, dan selera kita menjadi cermin dari data, bukan dari jiwa.
Sebab, ada perbedaan mendasar antara menemukan dan disodorkan. Maka, kita perlu memilah tiga hal yang kini menentukan bagaimana kita mendengarkan musik. Pertama, algorithmic curation: proses penyusunan dan rekomendasi lagu oleh mesin berdasarkan analisis data pendengar, histori dengar, lompatan, like, bahkan waktu mendengarkan, untuk memprediksi dan memenuhi selera tanpa campur tangan manusia secara langsung. Kedua, serendipity: momen tak terencana menemukan artis atau lagu yang tidak dicari, sering kali melalui medium fisik, rekomendasi personal, atau ketidaksengajaan, sebuah pengalaman yang kini digantikan oleh rekomendasi algoritmik yang presisi namun kehilangan kejutan. Ketiga, filter bubble dalam musik: fenomena di mana algoritma terus-menerus merekomendasikan lagu yang mirip dengan yang sudah disukai, sehingga pendengar jarang terpapar genre, era, atau budaya musik di luar kebiasaannya. Selera menjadi homogen dan tertutup. Nick Seaver menyebutnya dengan dingin: “Rekomendasi yang sempurna adalah jebakan. Ia tidak memberimu apa yang kau butuhkan; ia memberimu apa yang kau ingin, berdasarkan dirimu yang dulu. Algoritma tidak memprediksi masa depan seleramu, ia mengulang masa lalumu.”
Akibatnya bisa diukur dan dirasakan. Studi Anderson dan koleganya terhadap 100 juta playlist di Spotify menemukan bahwa lagu-lagu yang direkomendasikan oleh algoritma cenderung memiliki kemiripan genre dan tempo yang tinggi dengan lagu yang sudah didengarkan. Hanya 4% rekomendasi yang membawa pendengar ke genre baru yang signifikan. Artinya, mesin penemuan sebenarnya adalah mesin pengulangan. Penelitian Bello dan Garcia memperkuat temuan ini: pendengar yang hanya mengandalkan playlist terkurasi mengalami penurunan variasi genre yang didengarkan hingga 30% dalam satu tahun. Kita dikurung dalam selera kita sendiri, dan kita menyebutnya kenyamanan.
Mengapa ini terjadi? Sebab, algoritma tidak dirancang untuk memperluas wawasan, melainkan untuk mempertahankan perhatian. Spotify, Apple Music, dan platform sejenis hidup dari waktu yang kita habiskan di aplikasi mereka. Rekomendasi yang akurat membuat kita betah. Rekomendasi yang mengejutkan membuat kita berhenti, berpikir, dan mungkin pergi. Maka, algoritma memilih yang pertama. John Seabrook, dalam The Song Machine, menulis, “Playlist adalah radio yang tidak punya kepribadian. Ia tidak mengambil risiko. Ia hanya memutar yang sudah pasti disukai. Tidak ada DJ yang tiba-tiba memutar lagu aneh dan berkata, ‘Ini untukmu.’ Tidak ada kejutan. Hanya prediksi.”
Ini bukan sekadar soal musik. Ini soal bagaimana kita dilatih untuk tidak lagi mencari. Seorang pendengar lahir tahun 2000-an mengaku tidak pernah mendengarkan satu album utuh. Baginya, musik adalah kumpulan lagu. Playlist adalah unit konsumsi. Ia tidak tahu siapa produser di balik lagu favoritnya, tidak tahu sampul albumnya, tidak tahu urutan lagu yang dimaksudkan musisi. Algoritma telah mendidik generasi ini untuk mendengar tanpa mendengarkan, mengonsumsi tanpa mengalami. Musik bukan lagi perjalanan; ia adalah latar belakang yang nyaman. “Aku suka lagu ini,” katanya, tanpa bisa menyebut judulnya.
Lalu ada ironi yang lebih dalam. Playlist juga membentuk cara musisi mencipta. Di era streaming, lagu harus menangkap pendengar dalam 30 detik pertama agar tidak di-skip. Struktur lagu berubah: intro dipangkas, hook ditampilkan lebih awal, durasi diperpendek. Musik tidak lagi dirancang untuk didengarkan, tetapi untuk algoritma. Playlist bukan hanya mengubah pendengar; ia mengubah pencipta. David Byrne, dalam How Music Works, mengenang masa lalu dengan tepat: “Dulu, kau membeli album karena sampulnya, karena kau suka satu lagu, atau karena temanmu bilang ‘ini bagus’. Kau membawanya pulang, memutar seluruhnya, dan sering kali kecewa. Tapi dalam kekecewaan itu kau menemukan sesuatu yang tidak kau cari. Itu adalah seni menemukan.”
Di sinilah kita perlu bertanya: jika algoritma telah membajak proses menemukan, apa yang bisa kita lakukan untuk merebutnya kembali? Pertama, matikan personalisasi sesekali. EU Digital Services Act Pasal 27 kini mewajibkan platform besar untuk menawarkan opsi menonaktifkan personalisasi berbasis profil. Gunakan hak itu. Dengarkan musik tanpa algoritma yang membisikkan apa yang harus kamu suka. Kedua, dengarkan satu album utuh. Dari lagu pertama sampai terakhir, tanpa shuffle, tanpa lompatan. Rasakan urutan yang dimaksudkan musisi, bukan urutan yang dihitung mesin. Ketiga, kembalilah ke sumber manusia. Tanyakan pada teman apa yang sedang mereka dengar. Masuk ke toko kaset, kalau masih ada. Baca blog musik yang ditulis oleh manusia, bukan dikurasi oleh kode. Keempat, terimalah ketidaknyamanan. Otak manusia menyukai apa yang disebut predictable surprise, kejutan yang bisa diprediksi. Musik yang benar-benar baru, genre yang tak dikenal, suara asing, awalnya bisa tidak nyaman, tetapi justru itulah yang memicu pertumbuhan kognitif. Algoritma yang hanya menyajikan yang nyaman menghilangkan latihan mental untuk memproses hal baru. Selera menjadi mandek, dan pikiran menjadi malas.
Sebab, kenyamanan adalah musuh seni. Algoritma dirancang untuk menghilangkan gesekan, dan gesekan adalah tempat tumbuhnya selera. Saat kita harus berusaha mencari, kita terlibat secara emosional dengan musik. Saat semuanya disodorkan, kita menjadi konsumen pasif. Walter Benjamin berbicara tentang hilangnya “aura” dalam reproduksi mekanis seni. Playlist adalah reproduksi mekanis dari selera: ia mendistribusikan salinan pengalaman mendengarkan yang seragam, tanpa konteks ruang, waktu, atau ketidaksengajaan. Playlist tidak punya aura. Ia adalah salinan dari salinan. Nietzsche menulis, “Tanpa musik, hidup akan menjadi kesalahan.” Namun, musik yang ia maksud adalah musik yang menuntut, yang mengguncang, yang mengubah. Dionysian. Playlist algoritmik adalah Apollonian yang steril: teratur, harmonis, tidak pernah melampaui batas yang sudah ditentukan. Dalam playlist, kita kehilangan Dionysus, dan musik menjadi sekadar hiasan, bukan kekuatan yang mengguncang jiwa.
Mungkin di sinilah kita perlu berhenti sejenak dan mengakui bahwa tidak semua hal harus dikembalikan ke tangan kita sepenuhnya. Algoritma tidak akan pergi, dan playlist akan terus disodorkan setiap Senin pagi. Tetapi di sela-sela kenyamanan yang ditawarkan mesin, selalu ada ruang untuk memilih mendengarkan secara berbeda: satu album penuh yang diputar tanpa gangguan, satu pencarian manual yang tidak diminta oleh algoritma, satu lagu asing yang dipilih tanpa tahu akan dibawa ke mana. Tindakan-tindakan kecil itu tidak akan mengubah industri musik, tetapi ia mengubah hubungan kita dengan apa yang kita dengar. Dari sekadar konsumen yang disuapi, kita kembali menjadi penjelajah yang sesekali tersesat. Dan dalam kesesatan itulah, barangkali, kita menemukan sesuatu yang tidak bisa diprediksi oleh data apa pun: sebuah lagu yang tidak kita tahu kita butuhkan, sebuah suara yang terasa seperti pulang meskipun belum pernah kita kunjungi sebelumnya. Itu bukan kemenangan melawan algoritma. Itu hanya cara kecil untuk mengingat bahwa selera kita, pada akhirnya, masih bisa kita tulis sendiri.

Tinggalkan Balasan