Khoiri Setiawan
-
Lini Masa yang Menghukum: Mengapa Kita Takut Berbeda Pendapat?
Dulu, lini masa adalah sungai. Kita mengikuti seseorang, dan kita melihat semua yang mereka katakan, mentah dan kronologis. Hari ini, sungai itu dibendung dan dialirkan melalui kanal algoritma. Kita hanya melihat yang disukai banyak orang, yang memancing reaksi, yang membakar emosi. Algoritma tidak peduli pada kebenaran atau pluralitas. Zeynep Tufekci mengatakannya dengan dingin, “Algoritma media…
-
Viral atau Vital: Memilih Pembaca yang Berpikir di Tengah Demam Klik
Di sebuah ruang redaksi yang dindingnya ditempeli layar dashboard, angka bergerak seperti detak jantung. Unique visitors, page views, time on page, shares. Setiap wartawan tahu: jika angka hari ini turun, ada yang harus segera diubah. Judul dibuat lebih menggoda, lebih provokatif, kadang menjanjikan sesuatu yang tidak sepenuhnya ada di isinya. Target bukan lagi kebenaran atau pelayanan publik. Target adalah…
-
Membaca yang Biasa: Menghidupkan Detail, Menyelami Keseharian, Menemukan Semesta
Seorang jurnalis menghabiskan tiga bulan di sebuah warung kopi kecil di pinggir kota. Ia tidak mencari skandal atau konflik. Ia hanya duduk, mendengarkan percakapan para pensiunan tentang harga cabai, memperhatikan bagaimana pemilik warung mengingat pesanan setiap pelanggan tanpa mencatat. Dari potongan-potongan remeh itu, ia menulis cerita tentang memori kolektif, tentang kota yang berubah terlalu cepat,…
-
Bukan Berimbang, Melainkan Bertanggung Jawab
Bayangkan sebuah ruang redaksi. Seorang wartawan menelepon dua narasumber. Yang pertama datang dengan riset puluhan tahun dan konsensus komunitas ilmiah. Yang kedua datang dengan opini kosong, tanpa satu pun data yang bisa dicek. Wartawan itu lalu menulis berita, memberi porsi yang persis sama untuk keduanya, dan menutupnya dengan kalimat yang sudah terlalu akrab: “Kebenaran ada…
