Dulu, lini masa adalah sungai. Kita mengikuti seseorang, dan kita melihat semua yang mereka katakan, mentah dan kronologis. Hari ini, sungai itu dibendung dan dialirkan melalui kanal algoritma. Kita hanya melihat yang disukai banyak orang, yang memancing reaksi, yang membakar emosi. Algoritma tidak peduli pada kebenaran atau pluralitas. Zeynep Tufekci mengatakannya dengan dingin, “Algoritma media sosial hanya peduli pada satu hal: waktu yang kita habiskan di platform. Kemarahan menahan kita lebih lama daripada kebosanan. Karena itu, konten yang memecah belah selalu diprioritaskan.” Maka, lini masa berubah menjadi panggung orkestra yang hanya menyanyikan satu nada. Siapa pun yang fals dari paduan suara maya itu akan diusir tanpa suara.
Sebab, ada perbedaan mendasar antara ruang yang hidup dan ruang yang homogen. Maka, kita perlu memilah tiga hal yang sering tertukar ketika kita membicarakan lini masa hari ini. Pertama, ruang aman: ia bukanlah zona bebas dari ketidaknyamanan. Hannah Arendt mengingatkan bahwa ruang publik yang sehat justru memerlukan keberanian untuk tampil dan berpendapat di hadapan orang lain yang berbeda. Ruang aman yang sejati adalah tempat setiap orang dapat menyatakan pendapat tanpa takut akan serangan personal, doxing, atau pengucilan sosial. Kedua, lini masa algoritmik: ia adalah arsitek utama penyempitan ruang aman karena merekayasa apa yang kita lihat dan apa yang tidak. Ia membangun echo chamber, ruang diskursif di mana kita hanya terpapar pada informasi yang memperkuat keyakinan sendiri. Ketiga, polarisasi afektif: ia adalah puncak dari penyempitan itu, ketika perbedaan bukan lagi soal kebijakan, melainkan soal benci. Iyengar dan koleganya menunjukkan bahwa dalam polarisasi afektif, yang lain bukan sekadar salah, tetapi jahat.
Akibatnya tidak main-main. Di Indonesia, perbedaan pendapat di lini masa sering berubah menjadi call-out culture yang brutal. Seseorang yang menyatakan sikap berbeda akan diserbu ribuan akun, dihujat, dicari identitasnya, dilaporkan massal, atau dipolisikan dengan pasal-pasal karet. SAFEnet mencatat pola ini dalam laporan tahunan mereka: orang memilih diam. Bukan karena setuju, tetapi karena takut. Chantal Mouffe sudah memperingatkan bahwa “ruang publik yang sehat bukanlah ruang yang bebas dari konflik, melainkan ruang di mana konflik dapat terjadi tanpa menghancurkan mereka yang terlibat di dalamnya.” Yang terjadi di lini masa kita justru sebaliknya: konflik selalu bertujuan menghancurkan.
Mengapa ini bisa terjadi? Sebab, struktur ekonomi perhatian telah mengubah cara platform bekerja. Studi internal Facebook yang dibocorkan Frances Haugen pada 2021 menunjukkan bahwa algoritma keterlibatan secara konsisten mempromosikan konten yang membangkitkan kemarahan dan polarisasi karena konten tersebut menghasilkan lebih banyak klik, komentar, dan share. Lini masa secara struktural dirancang untuk mempersempit ruang aman berbeda pendapat. Ini bukan efek samping, melainkan fitur inti dari model bisnis yang menjual perhatian kita kepada pengiklan. Di saat yang sama, efek spiral of silence membuat mereka yang berbeda pendapat semakin memilih diam. Noelle-Neumann sudah menemukan sejak 1974 bahwa orang cenderung menyembunyikan pendapat jika merasa berada di posisi minoritas karena takut diisolasi. Lini masa hari ini memperkuat efek itu: jumlah like dan retweet menjadi barometer opini mayoritas yang terlihat. Mereka yang berbeda melihat angka kecil, merasa sendirian, lalu menelan kembali kata-kata mereka sendiri.
Amnesty International bahkan mendokumentasikan bagaimana perempuan, terutama jurnalis dan aktivis, menerima serangan paling banyak saat menyatakan pendapat politik. Serangan itu tidak hanya verbal, tetapi terkoordinasi, yang disebut dogpiling: puluhan atau ratusan akun menyerbu satu orang. Ini adalah hukuman digital yang sangat efektif membungkam. Jika seorang jurnalis menulis opini tentang perlunya dialog dengan pihak yang dianggap “lawan politik”, ia bisa trending dalam hitungan jam, bukan karena argumennya tajam, tetapi karena ia diserbu. Ia dituduh pengkhianat, kehidupan pribadinya dibongkar, dan beberapa media menolak memuat tulisannya lagi. Lini masa yang seharusnya menjadi tempat bertukar pikiran berubah menjadi pengadilan massa tanpa hakim. Dan jurnalis itu berhenti menulis opini.
Di sinilah kita perlu bertanya: bagaimana memulihkan ruang aman untuk berbeda pendapat? Pertama, untuk platform: regulasi seperti EU Digital Services Act mulai mewajibkan platform besar untuk melakukan audit algoritma dan mengurangi risiko sistemik terhadap diskursus sipil. Ini langkah struktural yang mendorong platform merancang ulang lini masa yang tidak semata-mata mengejar keterlibatan. Kedua, untuk media: jurnalisme harus menjadi penjaga ruang aman itu dengan mendesain ruang dialog yang sungguh-sungguh. De Correspondent di Belanda, misalnya, mengharuskan pembaca menulis respons panjang yang dimoderasi sebelum bisa berkomentar, menekan komentar impulsif dan mendorong pertukaran pikiran yang serius. Reddit memiliki subreddit r/ChangeMyView, di mana pengguna mengundang orang lain untuk mengubah pendapat mereka dengan argumen, bukan serangan. Aturannya ketat: tidak boleh menyerang pribadi. Ini menunjukkan bahwa ruang berbeda pendapat bisa dibangun secara sengaja, bukan terjadi begitu saja.
Ketiga, untuk publik, kita perlu melatih apa yang bisa disebut digital mindfulness: kesadaran penuh saat mengonsumsi dan merespons konten. Jeda sebelum mengetik, membaca utuh sebelum menilai, menolak impuls membalas kemarahan dengan kemarahan. Penelitian Dorison, Minson, dan Rogers menunjukkan bahwa orang secara sistematis salah memprediksi pengalaman emosional dalam diskusi dengan lawan pandangan. Mereka mengira akan merasa marah dan tidak nyaman, tetapi setelah diskusi terjadi, mereka justru melaporkan rasa hormat dan pemahaman yang lebih besar. Ketakutan berbeda pendapat sering kali lebih besar dari risikonya.
Namun, menciptakan ruang aman bukan berarti menciptakan ruang yang steril dari kritik. Kritik yang tajam dan bahkan menyakitkan secara intelektual adalah bagian dari diskursus. John Stuart Mill dalam On Liberty menulis bahwa kebenaran hanya bisa didekati melalui benturan pendapat yang terus-menerus. “Jika semua manusia kecuali satu memiliki pendapat yang sama, mereka tidak berhak membungkam pendapat yang satu itu.” Yang harus dilawan adalah hukuman sosial: upaya menghancurkan individu secara personal karena pendapatnya. Ruang aman yang sehat adalah ruang di mana ide boleh dibantai, tetapi manusia tidak boleh dihancurkan. Kita juga harus membedakan antara discomfort dan harm, antara tidak nyaman karena ditantang dan terancam secara personal. Lini masa yang sempit sering mengaburkan keduanya, dan di situlah letak kegagalan kita.
Sebab, diam karena takut bukanlah stabilitas. Ia adalah bom waktu demokrasi. Levinas mengajarkan bahwa etika dimulai ketika kita menatap wajah orang lain dan melihat kerentanan mereka. Lini masa menghapus wajah. Kita berdebat dengan avatar dan teks tanpa melihat mata, tanpa mendengar suara. Ketika wajah dihapus, empati hilang. Dan ketika empati hilang, perbedaan pendapat berubah menjadi perang. Membangun kembali ruang aman adalah membangun kembali empati itu. Ini bukan pekerjaan satu platform, bukan pula pekerjaan satu media, dan bukan pula pekerjaan satu generasi, melainkan pekerjaan kita bersama: menolak godaan untuk membalas kemarahan dengan kemarahan, menolak godaan untuk membungkam mereka yang berbeda, dan memilih untuk mendengarkan, meskipun suara di seberang sana terdengar asing.
Mulai dari satu komentar yang tidak kamu setujui: baca sampai habis sebelum membalas. Mulai dari satu keberanian untuk tidak ikut menyerbu ketika semua orang sedang menghakimi. Mulai dari satu pertanyaan sebelum mengetik: apakah aku membalas ide atau menghancurkan orang? Lini masa yang sehat bukanlah tempat di mana semua orang setuju. Ia adalah tempat di mana mereka yang tidak setuju masih bisa minum kopi bersama.

Tinggalkan Balasan