Skripsi, Wisuda, Lalu Apa?

Ditulis oleh

di

Saya lulus pada 2023, setelah delapan tahun di kampus. Bukan karena malas, melainkan karena organisasi, teater, dan kerja-kerja yang menyita waktu. Di panggung wisuda, setelah toga dilepas dan foto-foto selesai, saya berdiri di pelataran dan bertanya, “Lalu, apa?” Tidak ada lagi jadwal kuliah, tidak ada dosen yang memberi tugas, tidak ada target yang jelas. Hidup yang dulu berpagar kini terbentang tanpa peta. Kecemasan itu datang bukan karena saya tidak mampu, tetapi karena saya tidak pernah diajari untuk hidup tanpa instruksi.

Inilah fase yang hampir semua sarjana lalui, tetapi nyaris tidak pernah dibicarakan di ruang kuliah.

Sebab, ada perbedaan mendasar antara menyelesaikan studi dan memulai hidup. Maka, kita perlu memilah tiga hal yang sering menumpuk di dada mahasiswa akhir tanpa mereka sadari. Pertama, quarter-life crisis: periode ketidakstabilan emosional, keraguan diri, dan kecemasan yang terjadi pada usia dua puluhan, dipicu oleh transisi dari pendidikan ke dunia kerja dan ekspektasi sosial yang bertabrakan dengan realita. Robbins dan Wilner menegaskan bahwa krisis ini bukanlah kegagalan individu, melainkan respons rasional terhadap dunia yang tidak lagi menyediakan transisi mulus dari pendidikan ke pekerjaan.[^1] Kedua, inflasi gelar: nilai gelar akademik menurun karena semakin banyak orang yang memilikinya. Brown, Lauder, dan Ashton merumuskannya dengan pahit: lulus kuliah dulu adalah tiket menuju kehidupan yang lebih baik, sekarang ia hanya tiket antre untuk melamar pekerjaan yang tidak menjamin kehidupan.[^2] Ketiga, kekosongan eksistensial: perasaan hampa dan tanpa makna yang muncul ketika seseorang kehilangan tujuan hidup. Viktor Frankl menyebutnya existential vacuum, dan mahasiswa akhir yang telah menyelesaikan skripsi sering memasuki kekosongan ini: semua target tercapai, tetapi tidak ada lagi arah yang jelas.[^3]

Akibatnya bisa diukur. Survei BPS 2023 menunjukkan bahwa tingkat pengangguran terbuka untuk lulusan perguruan tinggi mencapai 5,18%, sekitar 1,2 juta orang. Angka ini lebih tinggi dibanding lulusan SMK dan SMA sederajat, menandakan bahwa gelar tidak lagi menjadi jaminan kerja. Sementara itu, penelitian Agustin dan Ajiputri pada 300 mahasiswa akhir di Indonesia menemukan bahwa 67% responden mengalami gejala quarter-life crisis, dengan kecemasan tertinggi pada pertanyaan “apa yang akan saya lakukan setelah lulus?”.[^4] Di balik senyum foto wisuda, ada statistik sunyi: sarjana menganggur, sarjana bekerja di luar bidang ilmunya, sarjana bergaji di bawah upah minimum. Kampus merayakan kelulusan sebagai akhir, tetapi tidak memberi tahu bahwa ini adalah awal dari ketidakpastian yang panjang.

Mengapa kecemasan ini begitu luas? Sebab, ia bukan hanya milik individu, melainkan diwariskan. Orang tua bertanya “kapan kerja?”, keluarga besar membandingkan, linimasa menampilkan teman seangkatan yang sudah diterima kerja. Wisuda bukan lagi perayaan pencapaian; ia adalah garis start menuju perlombaan baru yang lebih kejam. Tidak ada jeda untuk bernapas. Mahasiswa dibesarkan dengan narasi “sekolah yang tinggi biar sukses”, tetapi realita pasar kerja tidak pernah sejalan dengan janji itu. Saya merasakannya sendiri: setelah lulus, saya tidak melamar pekerjaan. Saya memilih mendirikan usaha. Bukan karena saya yakin akan berhasil, tetapi karena saya tidak tahan dengan ide bahwa hidup saya harus ditentukan oleh lamaran yang diterima atau ditolak.

Di sinilah kita perlu bertanya: apa yang bisa dilakukan ketika skripsi selesai, wisuda berlalu, dan yang tersisa hanyalah ruang kosong? Pertama, beri izin pada diri sendiri untuk tidak tahu. Kampus melatih kita untuk menjawab pertanyaan dengan benar, tetapi hidup tidak selalu memiliki pertanyaan yang jelas, apalagi jawaban yang benar. Kedua, tulis ulang definisi sukses. Selama ini sukses didefinisikan oleh orang tua, oleh tetangga, oleh linimasa. Tetapi definisi itu belum tentu milikmu. Ketiga, cari makna, bukan sekadar pekerjaan. Frankl mengingatkan bahwa ketika seseorang tidak bisa menemukan makna, ia akan mengisi kekosongan dengan kesenangan atau kepatuhan buta. Sarjana yang menganggur bukan hanya kehilangan pendapatan, tetapi kehilangan alasan untuk bangun pagi. Keempat, bangun komunitas. Fenomena sarjana menganggur di Indonesia memunculkan banyak forum curahan hati di Twitter dengan tagar #AkuSarjanaDan. Di sana, ribuan lulusan baru berbagi cerita tentang lamaran yang ditolak dan rasa malu kepada orang tua. Kecemasan pasca-wisuda adalah pengalaman kolektif yang selama ini disimpan sendiri-sendiri.

Sebab, kampus mengajarkan cara menulis skripsi, tetapi tidak mengajarkan cara menulis ulang rencana hidup ketika skripsi itu selesai. Mahasiswa dilatih menjadi peneliti, tetapi tidak dilatih menjadi manusia yang tangguh menghadapi penolakan dan ketidakpastian. Albert Camus dalam The Myth of Sisyphus menggambarkan absurditas: manusia yang terus mendorong batu ke atas bukit, meskipun tahu batu itu akan jatuh lagi. Skripsi adalah batu itu, wisuda adalah puncak bukit, dan setelahnya batu menggelinding lagi. Camus menyarankan agar kita membayangkan Sisyphus bahagia. Tetapi bagaimana caranya? Pertanyaan inilah yang seharusnya diajarkan oleh filsafat di kampus, bukan hanya cara menganalisis data.

Skripsi adalah latihan mengakhiri. Tetapi tidak ada yang melatih kita untuk memulai kembali. Setelah halaman terakhir ditandatangani, yang tersisa adalah ruang kosong. Ruang kosong itu menakutkan jika kita tidak pernah diajari untuk mengisinya sendiri. Tetapi ruang kosong itu juga bisa menjadi kanvas, bukan jurang, jika kita berani mengambil kuas dan mulai melukis, meskipun belum tahu apa yang akan tergambar. Saya memilih mendirikan usaha kecil. Bukan karena saya tahu itu akan berhasil, tetapi karena saya ingin menulis skrip saya sendiri, meskipun jelek, meskipun penuh coretan. Itu lebih baik daripada mengisi lembar jawaban yang disediakan orang lain.

Mungkin di situlah letak tugas yang sesungguhnya: bukan sekadar menemukan jawaban, melainkan belajar hidup bersama pertanyaan-pertanyaan yang belum terselesaikan. Dunia tidak akan berhenti menuntut, dan linimasa tidak akan berhenti membandingkan. Tetapi di antara suara-suara itu, selalu ada ruang kecil yang bisa kita klaim sebagai milik sendiri: satu keputusan untuk tidak terburu-buru, satu keberanian untuk mengatakan “aku belum tahu” tanpa rasa malu, satu langkah kecil yang tidak harus segera menghasilkan uang, tetapi diam-diam mulai menumbuhkan makna. Di dalam pertanyaan “lalu apa?” yang terus bergema, tersimpan lebih banyak kebenaran tentang diri kita daripada di dalam semua jawaban yang pernah kita hafal untuk ujian.


Rujukan:

Robbins, A., & Wilner, A. (2001). *Quarterlife Crisis: The Unique Challenges of Life in Your Twenties*. TarcherPerigee.

Brown, P., Lauder, H., & Ashton, D. (2011). *The Global Auction: The Broken Promises of Education, Jobs, and Incomes*. Oxford University Press.

Frankl, V. E. (2006). *Man’s Search for Meaning*. Beacon Press. (Karya asli diterbitkan 1946)

Agustin, R. W., & Ajiputri, F. (2022). Quarter-life crisis pada mahasiswa akhir di Indonesia. *Jurnal Psikologi Insight*, 6(1), 55–68.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *