Saya mengamati mereka yang datang ke nobar yang kami gelar. Puluhan orang memilih berdesakan di bangku kayu, padahal di rumah mereka bisa menonton dengan layar lebih jernih dan sofa lebih empuk. Ketika gol tercipta, mereka melompat, berteriak, dan berpelukan dengan orang yang lima menit sebelumnya belum mereka kenal. Malam itu mereka pulang bukan hanya membawa hasil pertandingan, tetapi membawa ingatan akan pelukan dan suara serempak yang menggetarkan dada.
Inilah yang dicari orang dalam nonton bareng: bukan sekadar tontonan, melainkan getaran yang hanya bisa lahir dari kehadiran fisik di tengah kerumunan.
Sebab, ada perbedaan mendasar antara menonton dan menonton bersama. Maka, kita perlu memilah tiga hal yang sering tidak disadari ketika seseorang memutuskan keluar rumah dan bergabung dengan orang asing di depan layar. Pertama, collective effervescence: istilah Émile Durkheim untuk energi sosial yang muncul ketika individu berkumpul dalam satu ruang, berbagi fokus yang sama, dan mengalami emosi kolektif. Di venue kecil tempat kami biasa menggelar acara, getaran itu terasa nyata: tepukan, teriakan, dan keheningan terjadi serempak, seolah ruangan itu bernapas bersama. Kedua, shared attention: kondisi ketika orang-orang memusatkan perhatian pada objek yang sama dan sadar bahwa yang lain juga memperhatikan hal yang sama. Dari perhatian yang dibagi inilah lahir perasaan “kami”. Ketiga, third place: konsep Ray Oldenburg tentang ruang sosial di luar rumah dan tempat kerja. Kedai kopi yang menjadi venue nobar adalah third place itu: ruang di mana hierarki runtuh, semua orang setara, dan yang menyatukan adalah layar dan suara.
Selama pandemi, kami tidak bisa menggelar nobar. Pertandingan tetap berlangsung, disiarkan langsung, bisa ditonton dari rumah. Tapi orang mengeluh: “Suasananya tidak sama.” Tanpa kerumunan, gol terasa hampa. Para pemain merayakan di stadion kosong, suara mereka menggema tanpa respons. Di situlah terbukti bahwa yang dicari dari nobar bukanlah pertandingan itu sendiri, melainkan gema dari sesama penonton. Pertandingan adalah alasan; kebersamaan adalah tujuan. Dari pengalaman mengelola nobar selama ini, saya melihat sendiri bahwa orang datang bukan hanya untuk menonton, tetapi untuk menjadi bagian dari sesuatu. Mereka ingin berbagi kecewa, berbagi sorak, dan berbagi ketegangan yang hanya bisa dilepaskan bersama-sama.
Mengapa kebersamaan ini begitu penting? Sebab, manusia dirancang untuk berbagi pengalaman, bukan hanya mengonsumsinya sendiri. Di desa tempat saya dibesarkan di kaki Gunung Lawu, nobar adalah ritual yang sudah ada sebelum internet masuk. Warga berkumpul di rumah yang punya televisi, duduk di tikar, berbagi kopi dan gorengan. Di sela-sela acara, mereka mengobrol, bercanda, dan saling menanyakan kabar. Layar hanyalah api unggun digital; yang penting adalah duduk mengelilinginya bersama. Victor Turner menyebut momen semacam ini sebagai communitas: ketika hierarki sosial runtuh dan semua peserta merasa setara. Di depan layar, bos dan bawahan, tua dan muda, berteriak sama kerasnya.
Namun, nobar bukan sekadar nostalgia akan cara lama menonton. Ia adalah respons terhadap sesuatu yang lebih mendesak: atomisasi masyarakat modern. Setiap kali seseorang memilih meninggalkan kenyamanan rumahnya untuk berdesakan dengan orang asing, ia sedang melakukan tindakan yang hampir politis: menolak untuk sendirian. Bahkan jika tontonannya remeh, yang penting adalah “bersama”. Inilah yang membuat kami tetap menggelar nobar, bahkan ketika layar di rumah semakin besar dan streaming semakin mulus. Karena yang dijual bukan tayangan, melainkan kehadiran.
Martin Buber membedakan antara relasi I-It, aku dengan objek, dan I-Thou, aku dengan sesama manusia. Menonton sendiri di rumah adalah relasi I-It: layar adalah objek yang ditatap dalam isolasi. Nobar mengubahnya menjadi I-Thou: penonton saling memandang, saling merespons, saling hadir. Di balik layar, yang benar-benar ditonton adalah satu sama lain. Di sinilah letak vitalitas nobar yang tidak bisa direplikasi oleh algoritma atau peningkatan kualitas layar. Nobar adalah jembatan dari isolasi digital menuju koneksi manusiawi. Ia mengingatkan bahwa menonton-bersama adalah modus dasar menjadi manusia, sesuatu yang tidak bisa diunduh, tidak bisa di-streaming, dan tidak bisa ditonton ulang: kehadiran sesama yang menatap ke arah yang sama.
Rujukan
Durkheim, É. (1995). The Elementary Forms of Religious Life. (K. E. Fields, Terj.). Free Press. (Karya asli diterbitkan 1912)
Oldenburg, R. (1989). The Great Good Place. Paragon House.
Turner, V. (1969). The Ritual Process. Aldine Publishing.
Buber, M. (1958). I and Thou. (R. G. Smith, Terj.). Scribner. (Karya asli diterbitkan 1923)


Tinggalkan Balasan